Kamis, 24 November 2022

SISTEM SIRKULASI / SISTEM PEREDARAN DARAH / KARDIOVASKULER

 SISTEM PEREDARAN DARAH

DARAH


Darah terdiri dari plasma darah dalam berbentuk cair, serta sel-sel lainnya. Plasma darah yang terkandung di dalam darah ada sekitar 55% dan sisanya adalah komponen-komponen lain seperti sel darah merah, sel darah putih dan keping-keping darah. Berikut komponen-komponen penyusun darah manusia dan fungsinya:

1.    Sel darah merah (eritrosit)


Sel darah merah, eritrosit (red blood cell (RBC), erythrocyte) adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi mengikat oksigen yang diperlukan untuk oksidasi jaringan-jaringan tubuh lewat darah dalam hewan bertulang belakang. Terdapar kira-kira 5 juta sel darah merah per mm3.

Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan mengambil oksigen dari paru-paru, dan oksigen akan dilepaskan saat eritrosit melewati pembuluh kapiler. Warna merah sel darah merah sendiri berasal dari warna hemoglobin yang unsur pembuatnya adalah zat besi.

Pada manusia, sel darah merah dibuat di sumsum tulang belakang, lalu membentuk kepingan bikonkaf. Di dalam sel darah merah tidak terdapat nukleus. Sel darah merah sendiri aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan dan diganti dengan sel darah merah atau eritrosit yang baru. Sel darah merah atau eritrosit mempunyai ciri-ciri antara lain:

ü  Berbentuk bulat pipih, mirip lempengan cakram dan bikonkaf.

ü  Tidak mempunyai inti sel

ü  Berwarnamerah akibat dari kandungan hemoglobinnya

ü  Proses produksi terjadi di dalam sumsum tulang

ü  Mempunyai jumlah yang paling banyak dibandingkan dengan yang lainnya.

Sel darah merah atau eritrosit berfungsi guna mengikat dan mengangkut oksigen dan karbondioksida keseluruh tubuh. Selain itu berfungsi juga untuk mengangkut zat-zat yang diperlukan serta zat-zat yang harus dibuat dari tubuh.

 

2.    Sel darah putih (leukosit)

Sel darah putih, leukosit (white blood cell (WBC), leukocyte) adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat bergerak secara amoeboid, dan dapat menembus dinding kapiler/diapedesis. Dalam keadaan normalnya terkandung 4x109 hingga 11x109 sel darah putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang sehat - sekitar 7.000-25.000 sel per tetes. Dalam setiap milimeter kubik darah terdapat 6.000 sampai 10.000 (rata-rata 8.000) sel darah putih. Pada penderita leukemia, jumlahnya dapat meningkat hingga 50.000 sel per tetes.

 Di dalam tubuh, leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka adalah produk dari sel punca hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang. Leukosit turunan meliputi: sel NK, sel biang, eosinofil, basofil, dan fagosit termasuk makrofaga, neutrofil, dan sel dendritik.

Sel darah putih atau leukosit mempunyai tanggung jawab untuk menjaga imun tubuh, melindungi tubuh dari serangan hal-hal yang membahayakan bagi tubuh, serta membunuh virus, bakteri dan juga bibit-bibit penyait lain yang bersarang di tubuh. Sel darah putih atau leukosit bentuknya berubah-ubah dan tidak mempunyai warna. Tempat untuk memproduksi Sel darah putih atau leukosit ialah berada di dalam sumsum merah, limpa, dan kura. Sel darah putih (leukosit) dibedakan 5 jenis, yaitu :

  1. Neurofil, merupakan bagian dari sel darah putih (leukosit) yang sering disebut juga dengan granulosit. Neurofil ini berisi enzim yang didalamnya terdapat granul dalam jumlah yang cukup banyak. Neurofil bertugas untuk melawan virus, bakteri dan juga bibit-bibit penyakit. Neurofil mempunyai 2 bentuk yaitu, yang berbentuk pita dan neurofil yang mempunyai segmen.
  2. Limfosit, ialah  bagian dari sel darah putih atau leukosit yang berguna untuk merusak sel kanker dan membentuk anti bodi. Memiliki 2 macam jenis, yaitu limfot t dan limfosit b.
  3. Monosit, mempunyai fungsi untuk memakan sel-sel yang sudah mati dan melawan organisme atau bibit penyakit yang menyebabkan infeksi.
  4. Eosinofil, mempunyai fungsi untuk memakan parasit dan merusak sel-sel kanker.
  5. Basofil, merupakan sejenis sel darah putih yang berisi (dan juga dapat melepaskan) histamin dan serotonin selama respon kekebalan tubuh. 

3.    Trombosit

Trombosit merupakan komponen dari darah yang mempunyai ukuran paling kecil dibandingkan dengan sel lainnya. Ukuran dari tombosit tidak beraturan dan tidak mempunyai inti sel. Tugas dari trombosit ini ialah unuk menghindari tubuh kehilangan banyak darah ketika terjadi luka, jadi saat bagian tubuh ada yang mengalami luka, otomatis tombosit akan membentuk jaring-jaring seperti jaring laba-laba yang disebut benang fibrin untuk menutup luka dan memberhentikan pendarahan.

 Berikut ini adalah karakteristik trombosit :

-        Tidak berinti, bentuk tak teratur

-        Jumlah 200.000 - 300.000 butir/mm3 darah

-        Tempat pembentukan di sumsum tulang

-        Fungsi berperan pada proses pembekuan darah


GOLONGAN DARAH

Golongan darah penting untuk diketahui karena semisal terjadi hal buruk seperti kecelakaan, kekurangan darah atau hal-hal yang mengharuskan kita untuk melakukan transfusi darah. Transfusi darah tidak bisa dilakukan sembarangan, kita harus mengetahui golongan darah kita baru bisa melakukan transfusi darah. Ada beberapa penggolongan darah yang sering kita jumpai di dunia, yaitu :

1.    Sistem ABO

Darah terdiri dari dua komponen, yaitu sel-sel (antara lain eritrosit dan leukosit) dan cairan (plasma). Plasma dikurangi fibrinogen (protein untuk pembekuan darah) merupakan serum. Dalam abad ke 18 pada waktu mulai dilakukan transfuse darah, terjadilah kematian pada resipien tanpa diketahui sebabnya. Akan tetapi Dr. Karl Landsteiner dalam tahun 1901 menemukan bahwa sel-sel darah merah dari beberapa individu akan menggumpal (beraglutinasi) dalam kelompok-kelompok yang dapat dilihat dengan mata telanjang, apabila dicampur dengan serum beberapa orang, tetapi tidak dengan semua orang. Selanjutnya, telah diketahui bahwa dasar dari penggumpalan eritrosit tersebut dikarenakan adanya reaksi antigen-antibodi (Suryo, 1997).

Sesorang dapat membentuk salah satu atau dua antibodi itu atau sama sekali tidak membentuknya. Demikian pula dengan antigennya. Dua antigen itu disebut antigen-A dan antigen-B, sedangkan dua antibody itu disebut anti-A dan anti-B (suryo, 1997).

 

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa orang yang memiliki antigen-A tidak memiliki anti-A, melainkan anti-B. Orang yang memiliki antigen-B memiliki anti-A. Jika antigen-A bertemu dengan anti-A, demikian pula antigen-B bertemu dengan anti-B, sel-sel darah merah menggumpal (beragglutinasi) dan mengakibatkan kematian. Orang yang tidak memiliki antigen-A maupun antigen-B dalam eritrositnya dinyatakan bergolongan darah O dan serum darahnya mengandung anti-A dan anti-B. Sebaliknya, bila serum darah tidak mengandung antibodi sama sekali, maka eritrosit mengandung antigen-A dan antigen-B. Orang demikian dinyatakan masuk golongan darah AB (Suryo, 1997).

 

Gambar jenis penggolongan darah dilihat dari sel-sel darah merah yang menggumpal

 

2.    Sistem Rhesus (Rh)

Rhesus adalah sejenis kera di India, yang dulu mula-mula sekali banyak dipakai para ahli untuk menyelidiki reaksi serum darah orang. Orang terdiri atas dua kelompok menurut sistem Rh ini: golongan Rh+ dan golongan Rh-, sistem ini ditemukan oleh K.Landsteiner dan A.S. Weiner (1940). Golongan Rh+ ialah orang yang di dalam eritrositnya ada antigen atau faktor rhesus. Golongan darah Rh- ialah orang yang di dalam eritrositnya tidak ada antigen itu (Yatim, 1996).

Orang Rh+ menerima darah dari Rh+ tak apa-apa, karena tidak ada antibodi terhadap antigen Rh itu dalam tubuhnya. Orang Rh+ menerima darah dari Rh- juga tak apa-apa, karena Rh- tidak mengandung antibodi. Orang Rh- menerima darah dari Rh+ juga mula-mula tak apa-apa, karena dalam tubuh Rh- belum ada antibodi. Baru kemudian, setelah menerima darah Rh+ itu antibodi terbentuk. Kalau Rh- ini menerima darah dari Rh+ kedua kalinya, akan terjadi penggumpalan karena antibodi dulu menyerang antigen baru (Yatim, 1996).

Ibu Rh- kalau mengandung embrio bergolongan Rh+ untuk kandungan pertama tak apa. Tapi kalau untuk kandungan kedua, dan embrio bergolongan Rh+ juga, akan terjadi erythtroblastosis fetalis. Bayi yang lahir oleh ini menderita anemia yang parah, dan di dalam darah banyak beredar eritroblast, eritrosit yang belum matang. Kalau darah bayi itu tidak ditambah (transfusi), tentulah bisa menyebabkan kematian. Ini karena eritrosit janin dapat masuk peredaran darah ibu, menyebabkan diproduksinya antibodi. Pada kehamilan berikut dan janin Rh+ juga, antibodi itu akan masuk peredaran darah janin dan mengaglutinasi eritrosit. Bisa juga peristiwa itu terjadi pada kehamilan pertama, kalau sebelumnya si ibu dapat transfusi dari Rh+ (Yatim, 1996).

Bayi erithroblastosis fetalis ditandai dengan tubuh yang gembung-gembng oleh cairan, sedang hati dan limpa bengkak besar. Kulit kuning keemasan. Dalam darah banyak eritroblast, eritrosit mentah dan berafinitas rendah terhadap oksigen. Tubuh menjadi kuning karena Hb yang keluar dari eritrosit mengalami hemolisa banyak sekali dalam darah dan hati, di sana diubah jadi bilirubin, pigmen kuning. Tak dapat semmua dibawa dalam bentuk empedu ke dalam usus, karena banyaknya. Ini bertimbun dalam darah. Otak yang banyak menerima darah yang mengandung bilirubin kadar tinggi bersifat meracun, sehingga sel-selnya rusak. Biasanya lahir prematur atau lahir mati. Ada yang dapat diselamatkan dengan transfusi darah golongan Rh- dan dengan golongan darah sistem ABO yang sama dengan bayi (Yatim, 1996).

Landsteiner berpendapat bahwa golongan RH ini diatur oleh 1 gen yang terdiri atas 2 buah alel, yakni: Rh dan rh. Rh dominan terhadap rh (Yatim, 1996). Genotipe kedua golongan darah menurut sistem Rh dirangkum dalam tabel di bawah ini:

  3.    Sistem MN

Dalam athun 1927 Landsteiner dan Levine menemukan antigen baru lagi, yang disebut antigen-M dan antigen-N. mereka berpendapat bahwa sel darah merah seseorang memiliki salah satu atau kedua macam antigen tersebut. Jika darah seseorang disuntikkan ke tubuh kelinci, maka serum darah kelinci membentuk antibodi yang dapat berupa anti-M ataupun anti-N (Suryo, 1997).

Dua antiserum (anti-M dan anti-N) digunakan untuk membedakn tiga genotipe dan fenotipe yang bersesuaian dengan masing-masing genotipe (golongan darah). Aglutinasi sel-sel darah merah terjadi sebagai akibat rekasi antara antiserum dan sebuah antigen protein spesifik (misalnya, anti-M hanya bereaksi dengan protein M) dan dilambangkan oleh tanda +; nonaglutinasi (0) terjadi ketika tidak terdapat antigen spesifik (misalnya, anti M tidak akan mengaglutinasi sel-sel yang berprotein N jika tidak ada M). Mirip dengan itu, sel-sel yang memiliki antigen N hanya akan beraglutinasi dengan antibodi N (Enlord dan William, 2008).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SISTEM SIRKULASI / SISTEM PEREDARAN DARAH / KARDIOVASKULER

 SISTEM PEREDARAN DARAH DARAH Darah terdiri dari plasma darah dalam berbentuk cair, serta sel-sel lainnya. Plasma darah yang terkandung di d...