Selasa, 09 Agustus 2022

KEANEKARAGAMAN HAYATI DI INDONESIA

KEANEKARAGAMAN HAYATI DI INDONESIA

Penyebaran Flora di Indonesia

Flora di Indonesia termasuk flora kawasan Malesiana yang meliputi Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Papua Nugini. Pada tahun 2009, Van Welzen dan Silk, botanis dari Belanda, melakukan penelitian yang menjelaskan distribusi flora Malesiana. Menurut keduanya, flora Malesiana terbagi menjadi flora dataran Sunda, flora dataran Sahul, dan flora di daerah tengah (peralihan) yang sangat khas dan endemik.

Flora Daratan Sunda (Asiatis)
Flora di Indonesia termasuk flora kawasan Malesiana yang meliputi Malaysia, Filipina, Indonesia , dan Papua Nugini. Pada tahun 2009, Van Welzen dan Silk, botanis dari Belanda, melakukan penelitian yang menjelaskan distribusi flora Malesiana. Menurut keduanya, flora Malesiana terbagi menjadi flora dataran Sunda, flora dataran Sahul, dan flora di daerah tengah (peralihan) yang sangat khas dan endemik.
Flora di dataran Sunda terbagi menjadi tiga macam, yaitu flora endemik seperti padma raksasa (Rafflesia arnoldii) yang hanya terdapat di wilayah Bengkulu, Jambi, dan SumateraSelatan, serta bunga anggrek Tien Suharto atau anggrek Hartinah (Cymbidium hartinahianum) yang hanya ada di wilayah
Sumatera Utara. Selanjutnya flora khas paparan sunda adalah pada bagian pantai timur di dominasi hutan mangrove dan rawa gambut. Kemudian flora di bagian pantai barat didominasi oleh meranti-merantian, rawa gambut, kemuning, rotan dan hutan rawa air tawar.

Flora Peralihan
Flora di daerah peralihan memiliki kemiripan dengan flora di dataran Sunda dan Sahul. Wilayah yang termasuk di dalamnya adalah wilayah pulau Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Di pulau Sulawesi setidaknya terdapat 4.222 jenis flora yang memiliki karakteristik yang hampir mirip flora di Flipina, Maluku, Nusa Tenggara, dan Jawa. Flora di bagian peralihan ini jika terdapat di pantai akan mirip dengan yang ada di Papua, namun untuk flora yang berada di gurun sangat mirip dengan yang ada di Kalimantan. Jenis flora endemik di wilayah ini adalah eboni (Diospyros celebica) atau lebih dikenal
dengan kayu besi di pulau Sulawesi, pohon leda (Eucalyptus deglupta), dan cengkeh (Syzygium aromaticum).

Flora Daratan Sahul
Hutan di dataran Sahul memiliki ciri-ciri yang sama dengan hutan Australia wilayah utara dengan beribu-ribu jenis tumbuhan yang berdaun lebat dan hijau. Ketinggian pohon di wilayah ini bisa mencapai 50 meter. Karena lebatnya daun pohon di hutan sahul membuat sinar matahari tidak Menembus tanah, sehingga kelembapan terjaga dan memiliki ciri ciri air tanah yang baik dan membuat tanah subur dengan organisme yang ada di dalamnya. Karena hal ini pula terdapat banyak tumbuhan merambat atau epifit. Spesies endemik di dataran ini antara lain sagu (Metroxylon sagu), pala (Myristica fragrans), dan matoa (Pometia pinnata). Selain itu, juga terdapat beberapa jenis tumbuhan seperti pohon besi, cemara, merbau, dan jati.

Penyebaran Fauna di Indonesia

Berdasarkan letak geografinya wilayah Indonesia dilewati oleh dua garis khayal, yaitu Garis Wallace dan Garis Webwe. Kedua garis khayal ini menyebabkan terjadinya perbedaan persebaran hewan (fauna) Indonesia. Penyebaran fauna di Indonesia dipengaruhi oleh aspek geografi dan peristiwa geologi benua Asia dan Australia. Para pakar zoology berpendapat bahwa tipe fauna di kawasan Indonesia bagian barat mirip dengan fauna di Asia Tenggara (oriental), sedangkan fauna di kawasan Indonesia bagian timur mirip dengan fauna di benua Australia (australis). Daerah  persebaran fauna di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan Indonesia bagian barat, kawasan peralihan (Wallacea), dan kawasan Indonesia bagian timur.

Peta persebaran fauna di Indonesia

Daerah Sebelah Barat Garis Wallace
Kawasan Indonesia sebelah Barat garis Wallace disebut juga fauna oriental atau asiatis, meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Kawasan ini dibatasi oleh garis imajiner Wallace yang terletak di antara Kalimantan dengan Sulawesi dan antara Bali dengan Lombok.Meskipun jarak antara Bali dan Lombok sangat dekat, namun jenis fauna yang hidup di kedua pulau tersebut berbeda. Garis Wallace dikemukakan oleh Alfred Russel Wallace (ahli zoologi berkebangsaan inggris) pada abad ke-19. Beberapa jenis fauna kawasan Indonesia bagian barat yang juga menjadi spesies endemikantara lain harimau (Panthera tigris), macan tutul atau leopard (Panthera pardus), gajah (Elephas maximus), badak jawa (Rhinoceros sondaicus), banteng (Bos sondaicus), orang utan (Pongo pygmaeus), wauwau (Hylobates lar), lutung (Presbytis cristata), merak hijau (Pavo muticus), dan burung jalak bali (Leucopsar rothschildi). Fauna di wilayah ini dikenal juga dengan tipe oriental yang bercirikan hewan menyusui berukuran besar, berbagai macam kera dan ikan air tawar.

Daerah Sebelah Timur garis Wallace
Wilayah Indonesia yang ada di sebelah Tmur Garis Wallace memiliki berbagai jenis fauna Australia, yaitu berbagai jenis burung dengan warna bulu yang mencolok, misalnya kasuari, cendrawasih, kakatua, nuri dan parkit. Ada pula merpati berjambul dan beberapa jenis hewan berkantung dan walabi.

Daerah Peralihan
Daerah peralihan adalah daerah di antar Garis Wallacs dan Weber. Disebut juga wilayah Wallace. Semakin ke Timur dari Garis Wallace, jumlah fauna oriental semakin berkurang. Sebaliknya semakian ke barat dari Garis Weber, Fauna Australia semalin berkurang. Dengan demikian, marsupiaiia dapat ditemukan di daerah Wallace dan butung pelatuk oriental juga dapat dijumpai di sebelah timur Wallace.


Selasa, 18 Januari 2022

 

GANGGUAN FUNGSI PADA SISTEM GERAK

Disusun oleh: Hadiyatun Nasiroh, S.Pd

 


Gangguan sistem gerak dapat terjadi pada tulang, persendian, dan otot. Penyebabnya bermacam-macam, karena infeksi mikroorganisme, kerusakan fisik, gangguan fisiologis, kekurangan garam mineral, beban aktivitas atau kesalahan sikap tubuh.

a.    Gangguan tulang, meliputi:

1)   Retak Tulang : Retak tulang dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

·     Fraktura sederhana, apabila tulang yang retak tidak sampai melukai otot.

·     Greenstick (retak tak lengkap), apabila tulang hanya retak dan sebagian tidak sampai memisah.

·    Fraktura tertutup, apabila tulang yang patah menyebabkan otot terluka, tetapi tidak keluar dari kulit.

·     Fraktura terbuka, apabila tulang yang patah sampai mencuat keluar kulit.

2) Rakhitis, adalah penyakit tulang menjadi rapuh karena kekurangan vitamin D. Penderita gangguan ini memiliki tulang kaki berbentuk X atau O.

3) Hidrosefalus, adalah kelainan yang disebabkan oleh pengumpulan yang abnormal dari cairan spinal dan terjadi pelebaran rongga otak sehingga kepala membesar.

4)  Mikrosepalus, adalah kelainan yang disebabkan oleh terhambatnya pertumbuhan tulang tengkorak karena kekurangan zat kapur pada waktu bayi. Hal ini menyebabkan kepala menjadi kecil.

5)  Osteoporosis, adalah pengeroposan tulang sehingga meningkatkan risiko patah tulang, terutama di pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.

Selain itu, osteoporosis adalah kelainan tulang berupa menurunnya kepadatan tulang. Penyakit berupa pengeroposan tulang akibat kekurangan kalsium disebut juga sebagai ‘tulang berpori’. Kondisi ini membuat tulang menjadi keropos dan rentan retak.

Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir terhadap penyakit osteoporosis karena jaringan tulang terus diperbarui dan tulang baru menggantikan tulang yang sudah tua dan rusak. Dengan cara ini, tubuh mempertahankan kepadatan tulang dan integritas kristal dan strukturnya.

Kepadatan tulang memuncak ketika seseorang berusia akhir 20-an. Setelah usia sekitar 35 tahun, tulang mulai menjadi lebih lemah. Seiring bertambahnya usia, tulang akan rusak lebih cepat daripada yang terbentuk. Jika ini terjadi secara berlebihan, dampaknya adalah muncul penyakit osteoporosis.

 

Mengutip berbagai sumber, ada beberapa cara untuk meningkatkan kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis.

a)    Asupan kalsium yang cukup

b)   Konsumsi vitamin K

c)    Olahraga

d)   Kurangi konsumsi alkohol

e)    Jangan lupa juga untuk meningkatkan asupan vitamin D

f)    Kurangi merokok

 

6)   Gangguan pada Tulang Belakang, terjadi karena kedudukan tulang belakang bergeser dari kedudukan normal. Kelainan pada tulang belakang ada beberapa macam, yaitu:

·     Kifosis, jika tulang punggung melengkung ke belakang, sehingga penderita kelihatan bungkuk.

· Skoliosis, jika tulang belakang melengkung ke arah samping, sehingga badan tampak melengkung ke kiri atau ke kanan.

·   Lordosis, jika tulang belakang melengkung ke depan yang menyebabkan kepala tertarik ke belakang.

 

b.   Gangguan Persendian,

dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

1)   Dislokasi, adalah pergeseran kedudukan sendi karena sobek atau tertariknya ligamen.

2)   Keseleo, gangguan persendian karena tertariknya ligamen sendi oleh gerakan tiba-tiba atau yang tidak biasa dilakukan.

3)   Ankilosis, adalah keadaan sendi tidak dapat digerakkan.

4)   Artritis atau infeksi sendi, yaitu gangguan sendi karena pera-dangan pada sendi. Artritis dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

·       Reumatoid, yaitu penyakit kronis pada jaringan penghubung sendi.

·       Ostevartritis, yaitu penyakit sendi karena menipisnya tulang rawan.

·       Gautartritis, yaitu gangguan gerak karena kegagalan metabolisme asam urat.

5) Osteoarthritis adalah suatu kondisi yang menyebabkan sendi-sendi terasa sakit, kaku, dan bengkak. Osteoarthritis merupakan salah satu jenis arthritis yang paling umum terjadi. Sendi yang paling sering mengalami kondisi ini meliputi tangan, lutut, pinggul, dan tulang punggung. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sendi-sendi yang lain juga bisa terserang

 Penyebab dan Faktor Risiko Osteoarthritis

Dalam kasus osteoarthritis, tulang rawan mengalami kerusakan secara perlahan. Tulang rawan sendiri merupakan jaringan ikat padat yang kenyal, licin, serta elastis. Jaringan ini menyelubungi ujung tulang pada persendian untuk melindunginya dari gesekan saat ada pergerakan. Saat tulang rawan mengalami kerusakan, teksturnya yang licin akan menjadi kasar. Seiring waktu, tulang akan bertabrakan dan sendi pun akan terpengaruhi.

Berikut ini adalah sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena osteoarthritis, di antaranya:

-   Usia. Risiko osteoarthritis akan meningkat seiring bertambahnya usia seseorang, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun.

-       Jenis kelamin. Wanita lebih sering mengalami osteoarthritis dibandingkan pria.

-   Cedera pada sendi. Sendi yang mengalami cedera atau pernah menjalani operasi memiliki kemungkinan osteoarthritis yang lebih tinggi.

- Obesitas. Berat badan yang berlebihan menambah beban pada sendi sehingga risiko osteoarthritis menjadi lebih tinggi.

-      Faktor keturunan. Risiko osteoarthritis diduga bisa diturunkan  secara genetika.

-      Menderita kondisi arthritis lain, misalnya penyakit asam urat atau rheumatoid arthritis.

-      Cacat tulang, seperti pada tulang rawan atau pembentukan sendi.

-    Pekerjaan atau aktivitas fisik yang membuat seseorang mengalami penekanan di titik tertentu secara terus-menerus.

 

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk meringankan gejala osteoarthritis, di antaranya:

-       Menurunkan berat badan bagi penderita yang mengalami obesitas.

-       Rutin berolahraga.

-       Menjalani fisioterapi dan/atau terapi okupasi.

-       Menggunakan alat khusus untuk membantu mengurangi rasa sakit saat berdiri atau berjalan.

-  Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat pereda rasa sakit (misalnya paracetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid), atau obat antidepresan (misalnya duloxetine). Selain itu, obat pereda nyeri topikal yang dioleskan pada bagian yang sakit juga dapat digunakan untuk meredakan nyeri ringan.

-   Jika langkah-langkah tersebut terbukti kurang efektif dan kondisi sendi cukup rusak, dokter mungkin akan menyarankan operasi. Prosedur ini dilakukan untuk memperbaiki, memperkuat, atau mengganti sendi agar pasien bisa lebih mudah bergerak.

 

Pencegahan Osteoarthritis

Meskipun osteoarthritis tidak dapat dicegah, penderita dapat meminimalisir potensi mengalami kondisi yang lebih parah atau komplikasi yang dapat menyebabkan kelumpuhan dengan melakukan beberapa hal, seperti:

-       Melakukan olahraga secara rutin untuk menguatkan otot dan sendi.

-       Menjaga postur tubuh saat duduk atau berdiri. Pastikan Anda meregangkan otot tubuh sesering mungkin.

-       Menjaga berat badan agar tidak mengalami obesitas.

 

c.    Gangguan Otot,

1)    Kejang Otot, adalah gangguan otot karena melakukan aktivitas terus-menerus, sampai akhirnya otot tidak mampu lagi berkontraksi karena kehabisan energi.

2)    Atropi, adalah gangguan otot karena otot mengecil sehingga kemampuan untuk berkontraksi hilang.

3)    Hipertropi, adalah keadaan otot menjadi lebih besar dan kuat karena sering dilatih. Hal ini terjadi pada tubuh atlet, misalnya binaragawan, atlet angkat besi, dan atlet sepakbola.

4)    Tetanus, adalah kejang otot yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.

5)    Kaku Leher atau Stiff, terjadi karena otot leher mengalami peradangan akibat gerakan atau hambatan yang salah sehingga leher terasa kaku.

6)    Hernia Abdominalis, adalah sobeknya otot dinding perut yang lemah sehingga usus melorot masuk ke rongga perut.

7)    Gejala Cerebral Palsy

Cerebral palsy  adalah sekelompok masalah yang mempengaruhi gerakan tubuh dan postur tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan perkembangan otak, yang biasanya terjadi saat anak masih di dalam kandungan, ketika proses persalinan atau dua tahun pertama setelah kelahiran. Kelainan perkembangan otak menyebabkan seseorang tidak dapat mengontrol gerakan dan mempengaruhi kekakuan otot.

Pada anak yang terkena cerebral palsy, dapat timbul sejumlah gejala berikut ini:

-       Kecenderungan menggunakan satu sisi tubuh. Misalnya menyeret salah satu tungkai saat merangkak, atau menggapai sesuatu hanya dengan satu tangan.

-       Terlambatnya perkembangan kemampuan gerak (motorik), seperti merangkak atau duduk.

-       Gaya berjalan yang tidak normal, seperti berjinjit, menyilang seperti gunting, atau dengan tungkai terbuka lebar.

-       Otot kaku atau malah sangat lunglai.

-       Tremor.

-       Kurang merespons terhadap sentuhan atau rasa nyeri.

-       Gangguan kecerdasan.

-       Gangguan penglihatan dan pendengaran.

-       Gangguan berbicara (disartria).

-       Kesulitan dalam menelan (disfagia).

-       Kejang.

-       Keluhan yang terjadi ini dapat bersifat permanen dan menimbulkan kecacatan.

 

Penyebab Cerebal Palsy

-       Perubahan pada gen, yang memiliki peran dalam perkembangan otak.

-       Infeksi saat hamil yang menular pada janin. Contohnya cacar air, rubella, sifilis, infeksi toksoplasma, dan infeksi cytomegalovirus.

-       Terganggunya suplai darah ke otak janin (stroke janin).

-       Perbedaan golongan darah rhesus antara ibu dan bayi.

-       Bayi kembar dua atau lebih. Risiko terjadinya cerebral palsy akan meningkat pada salah satu bayi yang selamat, apabila bayi yang lain meninggal saat lahir.

-       Berat badan bayi yang rendah saat lahir, yaitu kurang dari 2,5 kilogram.

-       Kurangnya suplai oksigen pada otak bayi (asfiksia) selama proses persalinan.

-       Kelahiran prematur, yaitu lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.

-       Kelahiran sungsang, yaitu lahir dengan kaki terlebih dulu keluar.

-       Radang pada otak atau selaput otak bayi.

-       Penyakit kuning yang meracuni otak (kernikterus).

-       Cedera parah di kepala, misalnya akibat terjatuh atau kecelakaan.

 

Pengobatan Cerebral Palsy

Metode pengobatan yang umumnya diberikan pada penderita lumpuh otak adalah:

-       Obat-obatan

Obat-obatan digunakan untuk meredakan nyeri atau melemaskan otot yang kaku, agar pasien lebih mudah untuk bergerak. Jenis obat yang digunakan dapat berbeda, tergantung luasnya otot yang kaku. Pada kaku otot yang hanya terjadi di area setempat, dokter akan memberikan suntik botox (botulinum toxin) setiap 3 bulan. Sedangkan untuk kaku otot yang terjadi di seluruh tubuh, dokter mungkin akan meresepkan diazepam dan baclofen.

-       Terapi, di antaranya:

ü  Fisioterapi. 

ü  Terapi okupasi. Terapi ini akan sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian pasien.

ü  Terapi bicara. bagi pasien cerebral palsy yang mengalami gangguan bicara.

-       Operasi

Operasi diperlukan bila kaku otot mengakibatkan kelainan pada tulang. Contohnya adalah

ü  Bedah ortopedi. Prosedur ini dilakukan untuk mengembalikan tulang dan sendi ke posisi yang benar. 

ü  Selective dorsal rhizotomy (SDR). SDR akan dilakukan bila prosedur lain tidak mampu mengatasi nyeri dan kaku otot. Prosedur ini dilakukan dengan memotong salah satu saraf tulang belakang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Diniari, Embun Bening. 2018. Mengenal Teknologi Sistem Gerak.  https://blog.ruangguru.com/mengenal-teknologi-sistem-gerak. Internet.

 

Eddy. 2015. Gangguan atau Penyakit pada Sistem Gerak Manusia. https://rangkuman-ipa.blogspot.com/2015/07/gangguan-atau-penyakit-pada-sistem-Gerak-Manusia.html. Internet.

 

Irnaningtyas, dan Yossa Istiadi. 2016. Biologi untuk SMA/MA Kelas XI. Erlangga: Jakarta.

 

 

PPT SISTEM SARAF - SISTEM SARAF PUSAT DAN SISTEM SARAF TEPI

 SISTEM SARAF PUSAT DAN SISTEM SARAF TEPI