Selasa, 18 Januari 2022

 

GANGGUAN FUNGSI PADA SISTEM GERAK

Disusun oleh: Hadiyatun Nasiroh, S.Pd

 


Gangguan sistem gerak dapat terjadi pada tulang, persendian, dan otot. Penyebabnya bermacam-macam, karena infeksi mikroorganisme, kerusakan fisik, gangguan fisiologis, kekurangan garam mineral, beban aktivitas atau kesalahan sikap tubuh.

a.    Gangguan tulang, meliputi:

1)   Retak Tulang : Retak tulang dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

·     Fraktura sederhana, apabila tulang yang retak tidak sampai melukai otot.

·     Greenstick (retak tak lengkap), apabila tulang hanya retak dan sebagian tidak sampai memisah.

·    Fraktura tertutup, apabila tulang yang patah menyebabkan otot terluka, tetapi tidak keluar dari kulit.

·     Fraktura terbuka, apabila tulang yang patah sampai mencuat keluar kulit.

2) Rakhitis, adalah penyakit tulang menjadi rapuh karena kekurangan vitamin D. Penderita gangguan ini memiliki tulang kaki berbentuk X atau O.

3) Hidrosefalus, adalah kelainan yang disebabkan oleh pengumpulan yang abnormal dari cairan spinal dan terjadi pelebaran rongga otak sehingga kepala membesar.

4)  Mikrosepalus, adalah kelainan yang disebabkan oleh terhambatnya pertumbuhan tulang tengkorak karena kekurangan zat kapur pada waktu bayi. Hal ini menyebabkan kepala menjadi kecil.

5)  Osteoporosis, adalah pengeroposan tulang sehingga meningkatkan risiko patah tulang, terutama di pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.

Selain itu, osteoporosis adalah kelainan tulang berupa menurunnya kepadatan tulang. Penyakit berupa pengeroposan tulang akibat kekurangan kalsium disebut juga sebagai ‘tulang berpori’. Kondisi ini membuat tulang menjadi keropos dan rentan retak.

Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir terhadap penyakit osteoporosis karena jaringan tulang terus diperbarui dan tulang baru menggantikan tulang yang sudah tua dan rusak. Dengan cara ini, tubuh mempertahankan kepadatan tulang dan integritas kristal dan strukturnya.

Kepadatan tulang memuncak ketika seseorang berusia akhir 20-an. Setelah usia sekitar 35 tahun, tulang mulai menjadi lebih lemah. Seiring bertambahnya usia, tulang akan rusak lebih cepat daripada yang terbentuk. Jika ini terjadi secara berlebihan, dampaknya adalah muncul penyakit osteoporosis.

 

Mengutip berbagai sumber, ada beberapa cara untuk meningkatkan kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis.

a)    Asupan kalsium yang cukup

b)   Konsumsi vitamin K

c)    Olahraga

d)   Kurangi konsumsi alkohol

e)    Jangan lupa juga untuk meningkatkan asupan vitamin D

f)    Kurangi merokok

 

6)   Gangguan pada Tulang Belakang, terjadi karena kedudukan tulang belakang bergeser dari kedudukan normal. Kelainan pada tulang belakang ada beberapa macam, yaitu:

·     Kifosis, jika tulang punggung melengkung ke belakang, sehingga penderita kelihatan bungkuk.

· Skoliosis, jika tulang belakang melengkung ke arah samping, sehingga badan tampak melengkung ke kiri atau ke kanan.

·   Lordosis, jika tulang belakang melengkung ke depan yang menyebabkan kepala tertarik ke belakang.

 

b.   Gangguan Persendian,

dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

1)   Dislokasi, adalah pergeseran kedudukan sendi karena sobek atau tertariknya ligamen.

2)   Keseleo, gangguan persendian karena tertariknya ligamen sendi oleh gerakan tiba-tiba atau yang tidak biasa dilakukan.

3)   Ankilosis, adalah keadaan sendi tidak dapat digerakkan.

4)   Artritis atau infeksi sendi, yaitu gangguan sendi karena pera-dangan pada sendi. Artritis dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

·       Reumatoid, yaitu penyakit kronis pada jaringan penghubung sendi.

·       Ostevartritis, yaitu penyakit sendi karena menipisnya tulang rawan.

·       Gautartritis, yaitu gangguan gerak karena kegagalan metabolisme asam urat.

5) Osteoarthritis adalah suatu kondisi yang menyebabkan sendi-sendi terasa sakit, kaku, dan bengkak. Osteoarthritis merupakan salah satu jenis arthritis yang paling umum terjadi. Sendi yang paling sering mengalami kondisi ini meliputi tangan, lutut, pinggul, dan tulang punggung. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sendi-sendi yang lain juga bisa terserang

 Penyebab dan Faktor Risiko Osteoarthritis

Dalam kasus osteoarthritis, tulang rawan mengalami kerusakan secara perlahan. Tulang rawan sendiri merupakan jaringan ikat padat yang kenyal, licin, serta elastis. Jaringan ini menyelubungi ujung tulang pada persendian untuk melindunginya dari gesekan saat ada pergerakan. Saat tulang rawan mengalami kerusakan, teksturnya yang licin akan menjadi kasar. Seiring waktu, tulang akan bertabrakan dan sendi pun akan terpengaruhi.

Berikut ini adalah sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena osteoarthritis, di antaranya:

-   Usia. Risiko osteoarthritis akan meningkat seiring bertambahnya usia seseorang, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun.

-       Jenis kelamin. Wanita lebih sering mengalami osteoarthritis dibandingkan pria.

-   Cedera pada sendi. Sendi yang mengalami cedera atau pernah menjalani operasi memiliki kemungkinan osteoarthritis yang lebih tinggi.

- Obesitas. Berat badan yang berlebihan menambah beban pada sendi sehingga risiko osteoarthritis menjadi lebih tinggi.

-      Faktor keturunan. Risiko osteoarthritis diduga bisa diturunkan  secara genetika.

-      Menderita kondisi arthritis lain, misalnya penyakit asam urat atau rheumatoid arthritis.

-      Cacat tulang, seperti pada tulang rawan atau pembentukan sendi.

-    Pekerjaan atau aktivitas fisik yang membuat seseorang mengalami penekanan di titik tertentu secara terus-menerus.

 

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk meringankan gejala osteoarthritis, di antaranya:

-       Menurunkan berat badan bagi penderita yang mengalami obesitas.

-       Rutin berolahraga.

-       Menjalani fisioterapi dan/atau terapi okupasi.

-       Menggunakan alat khusus untuk membantu mengurangi rasa sakit saat berdiri atau berjalan.

-  Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat pereda rasa sakit (misalnya paracetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid), atau obat antidepresan (misalnya duloxetine). Selain itu, obat pereda nyeri topikal yang dioleskan pada bagian yang sakit juga dapat digunakan untuk meredakan nyeri ringan.

-   Jika langkah-langkah tersebut terbukti kurang efektif dan kondisi sendi cukup rusak, dokter mungkin akan menyarankan operasi. Prosedur ini dilakukan untuk memperbaiki, memperkuat, atau mengganti sendi agar pasien bisa lebih mudah bergerak.

 

Pencegahan Osteoarthritis

Meskipun osteoarthritis tidak dapat dicegah, penderita dapat meminimalisir potensi mengalami kondisi yang lebih parah atau komplikasi yang dapat menyebabkan kelumpuhan dengan melakukan beberapa hal, seperti:

-       Melakukan olahraga secara rutin untuk menguatkan otot dan sendi.

-       Menjaga postur tubuh saat duduk atau berdiri. Pastikan Anda meregangkan otot tubuh sesering mungkin.

-       Menjaga berat badan agar tidak mengalami obesitas.

 

c.    Gangguan Otot,

1)    Kejang Otot, adalah gangguan otot karena melakukan aktivitas terus-menerus, sampai akhirnya otot tidak mampu lagi berkontraksi karena kehabisan energi.

2)    Atropi, adalah gangguan otot karena otot mengecil sehingga kemampuan untuk berkontraksi hilang.

3)    Hipertropi, adalah keadaan otot menjadi lebih besar dan kuat karena sering dilatih. Hal ini terjadi pada tubuh atlet, misalnya binaragawan, atlet angkat besi, dan atlet sepakbola.

4)    Tetanus, adalah kejang otot yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.

5)    Kaku Leher atau Stiff, terjadi karena otot leher mengalami peradangan akibat gerakan atau hambatan yang salah sehingga leher terasa kaku.

6)    Hernia Abdominalis, adalah sobeknya otot dinding perut yang lemah sehingga usus melorot masuk ke rongga perut.

7)    Gejala Cerebral Palsy

Cerebral palsy  adalah sekelompok masalah yang mempengaruhi gerakan tubuh dan postur tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan perkembangan otak, yang biasanya terjadi saat anak masih di dalam kandungan, ketika proses persalinan atau dua tahun pertama setelah kelahiran. Kelainan perkembangan otak menyebabkan seseorang tidak dapat mengontrol gerakan dan mempengaruhi kekakuan otot.

Pada anak yang terkena cerebral palsy, dapat timbul sejumlah gejala berikut ini:

-       Kecenderungan menggunakan satu sisi tubuh. Misalnya menyeret salah satu tungkai saat merangkak, atau menggapai sesuatu hanya dengan satu tangan.

-       Terlambatnya perkembangan kemampuan gerak (motorik), seperti merangkak atau duduk.

-       Gaya berjalan yang tidak normal, seperti berjinjit, menyilang seperti gunting, atau dengan tungkai terbuka lebar.

-       Otot kaku atau malah sangat lunglai.

-       Tremor.

-       Kurang merespons terhadap sentuhan atau rasa nyeri.

-       Gangguan kecerdasan.

-       Gangguan penglihatan dan pendengaran.

-       Gangguan berbicara (disartria).

-       Kesulitan dalam menelan (disfagia).

-       Kejang.

-       Keluhan yang terjadi ini dapat bersifat permanen dan menimbulkan kecacatan.

 

Penyebab Cerebal Palsy

-       Perubahan pada gen, yang memiliki peran dalam perkembangan otak.

-       Infeksi saat hamil yang menular pada janin. Contohnya cacar air, rubella, sifilis, infeksi toksoplasma, dan infeksi cytomegalovirus.

-       Terganggunya suplai darah ke otak janin (stroke janin).

-       Perbedaan golongan darah rhesus antara ibu dan bayi.

-       Bayi kembar dua atau lebih. Risiko terjadinya cerebral palsy akan meningkat pada salah satu bayi yang selamat, apabila bayi yang lain meninggal saat lahir.

-       Berat badan bayi yang rendah saat lahir, yaitu kurang dari 2,5 kilogram.

-       Kurangnya suplai oksigen pada otak bayi (asfiksia) selama proses persalinan.

-       Kelahiran prematur, yaitu lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.

-       Kelahiran sungsang, yaitu lahir dengan kaki terlebih dulu keluar.

-       Radang pada otak atau selaput otak bayi.

-       Penyakit kuning yang meracuni otak (kernikterus).

-       Cedera parah di kepala, misalnya akibat terjatuh atau kecelakaan.

 

Pengobatan Cerebral Palsy

Metode pengobatan yang umumnya diberikan pada penderita lumpuh otak adalah:

-       Obat-obatan

Obat-obatan digunakan untuk meredakan nyeri atau melemaskan otot yang kaku, agar pasien lebih mudah untuk bergerak. Jenis obat yang digunakan dapat berbeda, tergantung luasnya otot yang kaku. Pada kaku otot yang hanya terjadi di area setempat, dokter akan memberikan suntik botox (botulinum toxin) setiap 3 bulan. Sedangkan untuk kaku otot yang terjadi di seluruh tubuh, dokter mungkin akan meresepkan diazepam dan baclofen.

-       Terapi, di antaranya:

ü  Fisioterapi. 

ü  Terapi okupasi. Terapi ini akan sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian pasien.

ü  Terapi bicara. bagi pasien cerebral palsy yang mengalami gangguan bicara.

-       Operasi

Operasi diperlukan bila kaku otot mengakibatkan kelainan pada tulang. Contohnya adalah

ü  Bedah ortopedi. Prosedur ini dilakukan untuk mengembalikan tulang dan sendi ke posisi yang benar. 

ü  Selective dorsal rhizotomy (SDR). SDR akan dilakukan bila prosedur lain tidak mampu mengatasi nyeri dan kaku otot. Prosedur ini dilakukan dengan memotong salah satu saraf tulang belakang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Diniari, Embun Bening. 2018. Mengenal Teknologi Sistem Gerak.  https://blog.ruangguru.com/mengenal-teknologi-sistem-gerak. Internet.

 

Eddy. 2015. Gangguan atau Penyakit pada Sistem Gerak Manusia. https://rangkuman-ipa.blogspot.com/2015/07/gangguan-atau-penyakit-pada-sistem-Gerak-Manusia.html. Internet.

 

Irnaningtyas, dan Yossa Istiadi. 2016. Biologi untuk SMA/MA Kelas XI. Erlangga: Jakarta.

 

 

Rabu, 24 November 2021

RANGKA / TULANG MANUSIA - SISTEM GERAK PADA MANUSIA

SISTEM GERAK PADA MANUSIA

Alat gerak pada manusia dan hewan tingkat tinggi adalah tulang dan otot. Tulang disebut alat gerak pasif, terdiri dari 206 tulang yang saling berhubungan menyusun sistem rangka. sedangkan otot disebut alat gerak aktif karena kemampuannya berkontraksi sehingga dapat menggerakkan tulang. 

TULANG / RANGKA

Rangka manusia dewasa dibangun oleh 206 ruas tulang dengan bentuk dan ukuran yang bervariasi sesuai dengan fungsinya. Rangka berfungsi sebagai:

  1. Formasi bentuk tubuh. Tulang-tulang penyusun tubuh menentukan bentuk dan ukuran tubuh.
  2. Formasi sendi-sendi. Tulang-tulang yang berdekatan membentuk persendian yang bergerak, tidak bergerak, atau sedikit bergerak, bergantung pada kebutuhan fungsional tubuh.
  3. Pelekatan otot-otot. Tulang-tulang menyediakan permukaannya sebagai tempat untuk melekatkan otot-otot. Otot-otot dapat berfungsi dengan baik apabila melekat dengan kuat pada tulang.
  4. Bekerja sebagai pengungkit. Tulang digunakan sebagai pengungkit untuk berbagai macam aktivitas selama pergerakan.
  5. Penyokong berat badan serta daya tahan untuk menghadapi pengaruh tekanan. Tulang-tulang menyokong berat badan, memelihara sikap tubuh tertentu (misalnya : sikap tegak pada tubuh manusia).
  6. Proteksi. Tulang-tulang membentuk rongga yang melindungi organ-organ halus seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung, paru-paru, dan organ-organ bagian dalam tubuh lainnya. 
  7. Hemopoesis. Sumsum tulang merupakan tempat pembentukan sel-sel darah. 
  8. Fungsi imunologis. Sel-sel imunitas dibentuk di dalam sumsum tulang. Misalnya pembentukan limfosit B yang dapat membentuk antibodi untuk sistem kekebalan tubuh.
  9. Penyimpanan kalsium. Tulang-tulang mengandung sekitar 97% kalsium yang terdapat di dalam tubuh. Kalsium tersebut berupa senyawa anorganik maupun garam-garam, terutama kalsium fosfat. Kalsium akan dilepaskan ke darah bila dibutuhkan.

Rangka manusia dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu apendikuler dan aksial. Rangka apendikuler  merupakan kelompok tulang yang menyusun anggota gerak atas dan bawah, terdiri atas 126 ruas tulang. Rangka aksial merupakan kelompok tulang yang terletak di sumbu tubuh, yaitu pada tulang tengkorak,tulang belakang,tulang rusuk dan tulang dada, terdiri dari 80 tulang.

B. Rangka Aksial , terdiri dari

1) Tulang Tengkorak Tempurung kepala (Cranium),

  • Tengkorak manusia tersusun dari 22 buah tulang yang merupakan gabungan tulang-tulang tempurung kepala (kranium) dan tulang muka.
  • Tulang tempurung kepala berfungsi untuk melindungi otak.
  • Tulang tempurung kepala tersusun dari tulang dahi (frontal) tulang kepala belakang (osipital) tulang ubun-ubun (parietal) tulang pelipis (temporal). tulang baji (sphenoid) tulang tapis (ethmoid) 
  • Tulang-tulang muka membentuk rongga mata untuk melindungi mata, membentuk rongga hidung serta langit-langit, dan memberi bentuk wajah.
  • Di bagian bawah tempurung kepala terdapat rongga khusus yang disebut foramen magnum. Foramen magnum berfungsi sebagai tempat masuk dan keluarnya pembuluh syaraf serta darah yang kemudian menuju ke sumsum tulang belakang.
  • Tulang muka terdiri dari tulang rahang atas (maksila) tulang rahang bawah (mandibula) tulang pipi (zygomatik) tulang air mata (lakrimal) tulang hidung (nasal) tulang langit-langit (palatum). tulang gigi (os. dental).

2) Tulang belakang (Vertebrae)

  • Tulang belakang berada di bagian tengah tubuh  yang berfungsi untuk menopang seluruh tubuh, melindungi organ dalam tubuh, serta merupakan tempat pelekatan tulang rusuk. 
  • Tulang belakang terdiri dari 33 ruas yang terdiri (7 12 5 5 4) :
    1. 7 ruas tulang leher (vetebrata servikalis) 
    2. 12 ruas tulang punggung (vetebrata dorsalis)
    3. 5 ruas tulang pinggang (vetebrata lumbalis)
    4. 5 ruas tulang kelangkang (vertebrae sacralis) 
    5. 4 ruas tulang ekor  ( vertebrae Coxae) 

  • Tulang leher atas yang berhubungan dengan tempurung kepala disebut Tulang atlas. 
  • Tulang kelangkang (sakrum) merupakan fusi dari lima segmen tulang belakang, Kedepan melindungi usus dan organ kelamin yaitu tulang duduk (Ischium) tulang usus (Illium) Tulang kemaluan (pubis)
  • Sedangkan tulang ekor (koksi) merupakan fusi dari empat segmen terkahir tulang belakang.

3) Tulang dada ( Sternum)

  • Tulang dada terdiri dari 3 bagian yaitu hulu (manubrium) badan (korpus) taju pedang (xiphoid prosesus). Kepala tulang dada merupakan tempat melekatnya tulang selangka dan tulang rusuk pertama.
  • Badan tulang dada merupakan tempat melekatnya 6 (enam ) tulang rusuk sejati dan 3 ruas palsu yang menempel pada rusuk sejati paling bawah 

4) Tulang rusuk

  • Tulang rusuk terdiri dari 12 pasang.
  • Tulang rusuk digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu tulang rusuk sejati, tulang rusuk palsu, dan tulang rusuk melayang. 
  • Tulang rusuk sejati berjumlah 7 pasang. Ujung depan tulang sejati melekat pada tulang dada, sedangkan ujung belakang melekat pada segmen tulang punggung.
  • Tulang rusuk palsu berjumlah 3 pasang. Ujung depan tulang rusuk palsu melekat pada tulang rusuk di atasnya, sedangkan ujung belakang melekat pada segmen tulang belakang.
  • Tulang rusuk melayang berjumlah 2 pasang. Ujung depan tulang melayang tidak melekat pada tulang manapun, sedangkan ujung belakang melekat pada segmen tulang belakang.

B. Rangka Apendikuler   

Merupakan rangka pelengkap yang terdiri dari tulang-tulang anggota gerak atas dan bawah. 


1) Gelang bahu (pektoral) 
Gelang bahu merupakan persendian yang menghubungkan lengan dengan badan. Gelang bahu terdiri dari 2 macam tulang, yaitu skapula (tulang belikat) dan klavikula (tulang selangka). Tulang selangka bagian depan melekat pada bagian hulu tulang dada. Tulang belikat menjadi tempat pelekatan tulang lengan atas.

2) Tulang anggota gerak atas (tangan) 
Tulang lengan atas (humerus), tulang hasta (ulna), tulang pengumpil (radius), tulang pergelangan tangan (karpus), tulang telapak tangan (metakarpal), dan tulang jari tangan (falanges).

3) Tulang panggul (pelvis)
Tulang panggul yang tersusun dari tulang duduk (iscium), tulang usus (ilium), serta tulang kemaluan (pubis) yang terletak di kanan dan kiri.

4) Tulang anggota gerak bawah
Anggota gerak bawah terdiri dari tulang paha (femur), tulang kering (tibia), tulang betis (fibula), tulang tempurung lutut (patella), tulang pergelangan kaki (tarsal), tulang telapak kaki (metatarsal), dan tulang jari kaki (falanges).

STRUKTUR TULANG

Secara histology (struktur jaringan), tulang merupakan jaringan ikat yang khusus. Matriks tulang disusun oleh garam-garam organik yang yang mengalami mineralisasi, terutama kalsium fosfat. Jaringan tulang memiliki suatu sistem kanal (saluran). Melalui saluran ini suplai darah untuk masing-masing sel tulang dapat tercukupi. Tulang memperlihatkan suatu corak pertumbuhan yang khusus dan memiliki daya regenerasi (pemulihan diri) yang besar. Oleh karena itu, jika tulang mengalami cidera atau infeksi akan terjadi penyembuhan.

A. Bentuk-bentuk Tulang

Bentuk tulang terdiri dari tulang pipa, tulang pendek,  tulang pipih , dan tulang tidak beraturan.

1. Tulang pipa (tulang panjang).

  • Tulang pipa merupakan tulang yang berbentuk seperti pipa atau silindris (diafise), dengan kedua ujung tulang membulat (epifise).
  • Diafise merupakan bagian tengah tulang yang memanjang dan di tengahnya terdapat rongga, epifise merupakan bagian ujung tulang yang tersusun dari tulang rawan. Diantara diafise dan epifise terdapat metafise. Metafise tersusun dari tulang rawan.
  • Pada metafise terdapat cakra epifise, yaitu bagian tulang pipa yang memiliki kemampuan unutk tumbuh memanjang.
  • Bagian tengah tulang pipa memiliki rongga yang di dalamnya berisi sumsum tulang.
  • Sumsum tulang merupakan kumpulan pembuluh darah dan saraf. Sumsum tulang pipa berupa sumsum tulang merah dan kuning.
  • Sumsum tulang merah merupakan tempat pembentukan sel darah merah, sedangkan sumsum tulang kuning merupakan tempat pembentukan sel-sel lemak. 
  • Tulang pipa berfungsi untuk persendian. 
  • Tulang pipa umumnya ditemukan pada tulang paha, tulang betis, dan tulang hasta.

2) Tulang pendek

Tulang pendek merupakan tulang-tulang yang lebih kecil dan tidak ada perbedaan yang nyata antara ukuran panjang dan lebarnya. Bentuk tulang pendek seperti kubus, paku, atau berbentuk bulat. Tulang pendek dapat bergerak bebas.Tulang seperti ini ditemukan pada  ruas tulang belakang, tulang telapak tangan dan kaki.

3) Tulang pipih 

Tulang pipih merupakan tulang-tulang yang berbentuk lempengan-lempengan pipih yang lebar. Tulang pipih berfungsi untuk melindungi struktur tubuh bagian bawahnya. Terdapat  pada tulang pinggul, belikat, dan tempurung kepala.

4) Tulang tidak beraturan 

Tulang tidak beraturan merupakan tulang dengan bentuk kompleks yang berhubungan dengan fungsi khusus. Tulang tidak beraturan ditemukan pada tulang rahang, tulang-tulang kepala, dan ruas-ruas tulang belakang.






Rabu, 17 November 2021

SINTESIS PROTEIN ( TRANSKRIPSI DAN TRANSLASI) - SUBSTANSI GENETIK

SINTESIS PROTEIN

Sintesis protein yaitu proses penyusunan senyawa protein dengan membentuk rangkaian rantai polipeptida. Sintesis protein ini terjadi di dalam ribosom dan pengaturan sintesis protein dilakukan oleh gen (DNA) di dalam inti. Perubahan struktur gen dapat menyebabkan perubahan struktur protein pada tingkat asam amino, yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan dalam proses metabolisme. Ekspresi gen dilakukan melalui dua tahapan yaitu transkripsi dan translasi. 

Transkripsi

Dalam sintesis protein, proses transkripsi berlangsung di dalam inti sel. Transkripsi merupakan proses pengkopian/penyalinan molekul DNA menjadi utas RNA yang komplementer (DNA - mRNA). embacaan oleh transkriptase dimulai dari tanda awal (promotor) sampai tanda akhir (terminator). Hanya ruas yang diapit oleh kedua tanda itu yang akan ditranskripsikan. Utas DNA yang digunakan bagi sintesis RNA disebut sebagai utas cetakan (template), sedangkan utas DNA lainnya disebut dengan utas pendamping.
Proses transkripsi menghasilkan tiga jenis RNA, yaitu RNA duta (mRNA), RNA transfer (tRNA), dan RNA ribosomal (rRNA). ketiga jenis RNA ini berperan dalam proses trasnlasi. Hanya mRNA yang akan diterjemahkan kedalam protein.
Proses transkripsi dikatalisis oleh enzim transcriptase atau RNA polymerase. Proses transkripsi dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu inisiasi sintesis RNA, pemanjangan (elongasi) RNA, dan penyelesaian (terminasi) sintesis RNA.

Tahapan Transkripsi:
  1. Berlangsung dalam inti sel.
  2. Dimulai dengan membukanya pita "Double Helix" oleh enzim DNA polymerase.
  3. Pita DNA yang berfungsi sebagai pencetakan RNA disebut pita template atau sense dan pita DNA yang tidak mencetakan RNA disebut dengan pita antisense. 
  4. Pita RNA dibentuk sepanjang pita DNA pencetak dengan urutan basa nitrogennya komplementer dengan basa nitrogen yang ada pada pita cetakan DNA.
  5. Pita RNA yang telah selesai menerima pesan genetik dari pita DNA pencetak segera meninggalkan inti nukleus menuju ke ribosom, tempat sintesis protein dalam sitoplasma. Pita RNA menempatkan diri pada leher ribosom.
  6. RNA yang ada dalam sitoplasma bersiap-siap untuk berperan dalam proses sintesis protein berikutnya. Setiap satu RNA ini, mengikat satu asam amino yang mengandung ATP.

Translasi

Translasi berlangsung di sitoplasma, sehingga RNA harus dikeluarkan dari inti sel menuju sitoplasma. Dalam proses translasi, terjadi penerjemahan urutan kodon pada RNAd menjadi urutan asam amino pada ribosom, artinya asam amino akan dirangkaikan dengan asam amino lainnya untuk membentuk rantai polipeptida atau protein. Setelah mRNA sampai di ribosom, tRNA mulai mengangkut asam amino ke dalam kompleks translasi (ribosom), serta membaca sandi-sandi (kodon) pada mRNA. Setiap tRNA mempunyai antikodon yang spesifik. Translasi bermulai dari kodon awal sampai kodon akhir. Hubungan antara kodon dengan asam amino diatur melalui kode genetik. 
Dalam proses translasi ini, hanya ada satu kodon awal yaitu AUG yang menyandi asam amino metionin dan tiga kodon akhir UAA, UAG, dan UGA. Seperti pada proses transkripsi, translasi dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu inisiasi, elongasi /pemanjangan, dan terminasi /penyelesaian.

Kode Genetik

Kode genetik merupakan instruksi berupa kode-kode yang merumuskan jenis protein yang akan dibuat. Ciri khas protein ditentukan oleh jumlah asam amino. Pada sandi genetic terdapat 20 macam asam amino. Dalam sintesis protein dapat terjadi kesalahan dalam menerjemahkan kodekode yang diterima dari DNA. Jika terjadi kesalahan penerjemahan, akibatnya protein yang disusun juga keliru sehingga enzim yang dihasilkan juga salah. Pada asam nukleat DNA atau RNA-d terdapat 4 jenis nukleotida (basa) yang menyusun rantainya. Pada polipeptida dikenal 20 jenis asam amino penyusunnya. Dengan adanya 20 jenis asam amino tersebut, harus ada aturan yang dapat menjamin pengendalian gen dalam pembentukan protein, selalu bersifat khas (satu gen hanya menyandikan satu jenis protein). Untuk menjamin kekhasan tersebut harus banyak factor pengendali (kodon), sekurang -kurangnya sama dengan yang dikendalikan (asam amino). Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya satu kodon mengendalikan lebih dari satu asam amino. Berdasarkan persyaratan ini, tidak mungkin satu asam amino dikendalikan hanya oleh satu nukleotida, karena keempat nukleotida yang ada tidak akan mencukupi untuk mengendalikan 20 asam amino. 
Sistem pengkodean seharusnya didasarkan pada kombinasi dari nukleotida yang ada. Yang paling mungkin adalah setiap kodon merupakan kombinasi 3 nukleotida DNA sehingga akan diperoleh 64 kodon yang akan mencukupi untuk mengendalikan 20 asam amino.



Kamis, 11 November 2021

JARINGAN SARAF - STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN HEWAN

JARINGAN SARAF

Jaringan saraf adalah jaringan yang berfungsi untuk menghantarkan impuls (rangsangan). Jaringan saraf menghantarkan impuls dari alat-alat indra ke pusat saraf (otak dan sumsum tulang belakang), serta menghantarkan impuls dari pusat saraf ke organ lainnya. Jaringan saraf tersusun dari dua macam sel, yaitu neuron (sel saraf ) dan neuroglia (sel penyokong).

Neuron (Sel Saraf)

Setiap neuron terdiri atas badan sel, dendrit, akson atau neurit, selubung mielin, sel Schwann, dan nodus Ranvier. Struktur sel saraf dapat dilihat pada gambar berikut ini :
  1. Badan selmerupakan bagian utama dari neuron. Fungsi badan sel adalah menerima impuls dari dendrit. Di dalam badan sel terdapat sitoplasma, inti sel dan anak inti, retikulum endoplasma, mitokondria, serta ribosom. Inti sel berfungsi mengatur kegiatan sel saraf, serta berperan dalam
    pengaturan sifat yang dimiliki oleh keturunan sel tersebut. 
  2. Dendrit adalah cabang-cabang badan sel yang pendek. Dendrit berfungsi menghantarkan impuls dari neuron sebelumnya ke badan sel. Dendrit yang ada di saraf manusia bisa tumbuh dan bisa tercabut dari badan sel saraf pusat. Saraf pusat tersusun dari neuron-neuron yang memiliki banyak dendrit.
  3. Akson atau neurit adalah cabang badan sel yang panjang dan berfungsi untuk menghantarkan impuls dari badan sel menuju ke neuron berikutnya. Pada akson terdapat benang-benang halus yang disebut neurofibrilAkson berbentuk silindris dengan bagian ujung (terminal) bercabangcabang. Setiap cabang memiliki kantong-kantong kecil yang disebut tombol sinapsis atau gelembung sinapsis. Tombol sinapsis berisi zat kimia yang disebut neurotransmiter
  4. Selubung mielin adalah selubung lemak yang membungkus akson. Fungsi selubung mielin adalah sebagai pelindung bagi neurit agar tidak mengalami kerusakan. Selain itu, selubung mielin juga mencegah  terjadinya kebocoran rangsangan dan mempercepat jalannya impuls yang melewati akson. Akson yang tidak dilengkapi dengan selubung mielin pergerakan impulsnya bisa seperti gelombang.
  5. Sel Schwann adalah sel-sel yang membungkus dan membentuk selubung mielin. Fungsi sel Schwann adalah mempercepat pergerakan impuls, membantu menyediakan makanan untuk akson, dan juga membantu akson melakukan regenerasi. 
  6. Nodus Ranvier adalah lekukan-lekukan di antara segmen selubung mielin atau bagian dari akson yang tidak tertutup selubung mielin. Fungsi utama dari nodus Ranvier adalah sebagai batu loncatan untuk mempercepat pergerakan impuls ke otak maupun sebaliknya. Nodus Ranvier
    memungkinkan impuls bisa meloncat dari satu nodus ke nodus lainnya  sehingga rangsangan lebih cepat sampai tujuan.
Berdasarkan percabangan pada badan selnya, neuron dibagi menjadi tiga tipe, yaitu neuron unipolar, neuron bipolar, dan neuron multipolar. Perbedaan tiga tipe neuron di atas dapat dilihat pada gambar berikut ini :


Berdasarkan fungsinya, neuron dibagi menjadi tiga tipe, yaitu neuron sensorik,neuron motorik, dan neuron konektor.
  1. Neuron sensorik (neuron aferen) adalah neuron yang berfungsi menghantarkan impuls dari reseptor (alat-alat indra) ke pusat saraf. Neuron sensorik memiliki dendrit yang panjang dan akson yang pendek.
  2. Neuron sensorik disebut juga neuron indra.
  3. Neuron motorik (neuron eferen) adalah neuron yang berfungsi menghantarkan impuls dari pusat saraf ke efektor (otot). Neuron motorik memiliki dendrit yang pendek dan akson yang panjang. Neuron motorik disebut juga neuron penggerak
  4. Neuron konektor (interneuron) adalah neuron yang berfungsi meneruskan impuls dari neuron sensorik ke neuron motorik. Neuron konektor banyak terdapat di sumsum tulang belakang dan otak. Neuron konektor merupakan neuron multipolar dengan dendrit yang pendek, tetapi berjumlah banyak, serta akson yang panjang atau pendek. Ujung dendrit dari saraf yang satu berhubungan dengan ujung akson dari saraf lainnya membentuk sinapsis.

Neuroglia (Sel Glia)

Neuroglia merupakan sel-sel yang berfungsi sebagai pendukung kerja sel saraf. Neuroglia juga membantu sel saraf agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Neuroglia terdapat pada sistem saraf pusat maupun sistem saraf tepi dengan jumlah yang mencapai setengah dari jumlah neuron. Neuroglia memiliki fungsi sebagai berikut: 
  1. Menyediakan nutrisi bagi sel saraf (neuron).
  2. Membentuk selubung mielin pada sel saraf.
  3. Mempertahankan keseimbangan tubuh.
  4. Menyatukan jaringan pada susunan saraf pusat.
  5. Berpartisipasi dalam transmisi sinyal sistem saraf.

Neuroglia dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu neuroglia yang mendominasi sistem saraf pusat dan neuroglia yang mendominasi sistem saraf tepi.
1) Neuroglia yang mendominasi sistem saraf pusat terdiri dari empat macam sel, yaitu mikroglia, oligodendrosit, astrosit, dan sel ependim. 
  • Mikroglia adalah neuroglia yang merupakan bagian dari sistem imun bagi sistem saraf pusat. Mikroglia berupa sel kecil yang beraksi sebagai fagosit dan berfungsi membersihkan komponen yang dapat mengancam sistem saraf.
  • Oligodendrosit adalah sel yang fungsinya sama dengan sel Schwann, yaitu berperan membentuk selubung mielin bagi sistem saraf pusat. Oligodendrosit tidak memiliki kemampuan untuk regenerasi sehingga kerusakan pada sistem saraf pusat seringkali menyebabkan kecacatan permanen.
  • Astrosit adalah neuroglia yang mempunyai bentuk seperti bintang. Fungsi astrosit, yaitu: memperbaiki cedera otak, berperan dalam aktivitas neurotransmiter, menghubungkan neuron satu dengan neuron yang lain.
  • Sel ependim adalah sel bersilia yang melapisi bagian dalam rongga yang berisi cairan serebrospinal. Gerakan dari silia ini ikut berperan dalam mengalirkan cairan serebrospinal di seluruh ventrikel otak. Sel ependim juga berfungsi melapisi dan melindungi medulla spinalis, serta ikut membentuk cairan serebrospinal.
2) Neuroglia yang mendominasi sistem saraf tepi terdiri dari sel Schwann. Sel Schwann merupakan jenis neuroglia yang mempunyai fungsi sebagai pembentuk selubung mielin sel saraf. Pada sistem saraf pusat, tugas dari sel Schwann ini dijalankan oleh sel oligodendrosit.



Materi Jaringan Hewan yang lain, silahkan klik judulnya di bawah ini




DAFTAR PUSTAKA
Saifullah. 2020. Modul Pembelajaran Biologi Kelas XI - Jaringan Hewan. Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN.

https://ipa.pelajaran.co.id/otot-rangka/

JARINGAN OTOT - STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN HEWAN

JARINGAN OTOT 



Jaringan otot merupakan alat gerak aktif. Jaringan otot terdiri atas sel-sel otot atau serat-serat otot yang tersusun dalam berkas-berkas. Setiap sel otot memiliki membran yang disebut sarkolema. Sarkolema memisahkan sel otot satu dengan sel otot yang lain. Sel otot juga memiliki sitoplasma yang disebut sarkoplasma. Serat otot disebut miofibril. Miofibril tersusun dari satuan-satuan yang lebih kecil yang disebut miofilamen. Miofilamen ada yang tebal dan ada yang tipis. Miofilamen tipis mengandung aktin dan Miofilamen tebal mengandung miosin. Aktin dan miosin menyebabkan sel otot bersifat kontraktil. Pada setiap miofibril terdapat beberapa unit pita terang dan pita gelap yang disebut sarkomer.

Jenis jaringan otot :

a. Jaringan otot polos
Jaringan otot polos, tersusun dari sel-sel otot polos yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Bentuk sel seperti gelendong dengan kedua bagian ujungnya meruncing dan bagian tengahnya melebar.
  2. Selnya berukuran panjang 30 – 200 μm dan berdiameter 5 – 10 μm.
  3. Inti sel berjumlah satu, berbentuk oval, dan terletak di tengah sel.
  4. Pada sel tidak terdapat pita terang dan pita gelap.
  5. Aktivitas sel lambat, tetapi tidak mudah lelah. Oleh karena itu, otot polos mampu berkontraksi dalam jangka waktu yang lama.
  6. Kerja otot polos dipengaruhi oleh sistem saraf otonom (saraf tak sadar), baik saraf simpatis maupun saraf parasimpatis. Oleh sebab itu, otot polos bersifat involunter, yaitu bekerja di luar kesadaran dan tidak dapat diperintah. Cara kerja saraf simpatis berlawanan dengan saraf parasimpatis. Misalnya pada lambung. Jika terjadi kontraksi pada otot lambung, saraf simpatis akan memperlambat kontraksi, sedangkan saraf parasimpatis akan mempercepat kontraksi. 
  7. Otot polos memiliki struktur yang lebih kecil daripada otot lurik.
  8. Otot polos memiliki aktin, miosin, dan tropomiosin, tetapi tidak memiliki troponin. Selain itu, otot polos hanya memiliki sedikit mitokondria.
  9. Otot polos dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Otot polos unit tunggal adalah otot polos yang terdiri dari ratusan sampai jutaan serabut yang berkontraksi secara keseluruhan sebagai suatu kesatuan. Contohnya, otot polos yang menyusun dinding organ dalam seperti usus, lambung, saluran empedu, ureter, uterus, dan pembuluh darah. Otot polos unit ganda adalah otot polos yang terdiri dari serabut otot yang berbeda-beda. Setiap serabut otot bekerja sendiri-sendiri tanpa bergantung dengan serabut otot lainnya. Jenis otot polos ini juga jarang menimbulkan kontraksi yang spontan. Contohnya, otot polos siliaris pada mata dan otot piloerektor pada rambut yang menyebabkan rambut berdiri karena rangsangan saraf simpatis.
Jaringan otot lurik (otot rangka)

Jaringan otot lurik disebut juga otot rangka karena melekat pada tulang rangka. Dalam kehidupan sehari-hari, jaringan otot lurik dikenal sebagai daging. Ciri-ciri jaringan otot lurik adalah sebagai berikut:
  1. Bentuk selnya silindris panjang dengan bagian ujung-ujungnya meruncing, tetapi agak membulat pada bagian yang berbatasan dengan tendon. 
  2. Jaringan otot lurik tidak bercabang-cabang. 
  3. Selnya berukuran panjang 1 – 40 mm dan berdiameter 10 – 100 μm.
  4. Memiliki banyak inti sel dengan bentuk silindris dan terletak di bagian pinggir.
  5. Miofibril pada otot lurik terdiri atas filamen tipis dan filamen tebal yang sejajar dan tersusun berdampingan. 
  6. Filamen tipis terdiri atas tiga macam protein, yaitu aktin, troponin, dan tropomiosin.
  7. Filamen tebal terdiri atas protein miosin.
  8. Filamen aktin dan miosin saling tumpang tindih, serta tersusun menurut pola tertentu sehingga menghasilkan pandangan garis-garis seran lintang (lurik).
  9. Garis terang disebut pita I (isotrop) dan garis gelap disebut pita A (anisotrop).
  10. Setiap pola yang tersusun dari pita I dan pita A membentuk sarkomer, yaitu unit fungsional otot rangka karena mampu berkontraksi. Dengan demikian, satu miofibril tersusun dari banyak sarkomer yang berderet.
  11. Aktivitas sel cepat, tetapi mudah lelah. Oleh karena itu, jaringan otot lurik tidak dapat berkontraksi dalam jangka waktu lama.
  12. Kerja otot lurik dipengaruhi oleh otak, sehingga bersifat volunter, yaitu bekerja di bawah kesadaran dan dapat diperintah.
Jaringan otot jantung (miokardium)

Jaringan otot jantung memiliki bentuk yang mirip dengan otot lurik, tetapi cara kerjanya seperti otot polos. Ciri-ciri jaringan otot jantung adalah sebagai berikut:
  1. Bentuk selnya silindris bercabang-cabang dengan percabangan yangsaling bertautan. Pertemuan antarcabang pada jaringan otot jantung disebut sinsitium. Adanya sinsitium memungkinkan penyampaian implus saraf antara sel otot jantung satu dengan yang lain dapat berlangsung secara cepat. Otot jantung mempunyai diskus interkalaris, yaitu pertemuan dua sel yang tampak gelap jika dilihat dengan mikroskop.
  2.  Memiliki satu atau dua inti yang letaknya di bagian tengah sel.
  3. Terdapat pita terang dan pita gelap seperti pada otot lurik. Pada otot jantung terdapat pigmen lipofusin, yaitu pigmen berbentuk butiranbutiran berwarna kecokelatan yang mengandung bahan-bahan lemak. Selain pada sel otot jantung, pigmen lipofusin juga terdapat pada sel hati dan sel saraf.
  4. Dapat melakukan kontraksi terus-menerus tanpa beristirahat. Hal ini dikarenakan otot jantung memiliki banyak mitokondria, mioglobin, dan menerima suplai darah yang mengandung oksigen dan nutrisi secara terusmenerus.
  5. Kerja otot jantung dipengaruhi oleh saraf otonom sehingga bersifat involunter, yaitu bekerja di luar kesadaran dan tidak dapat diperintah.
  6. Di dalam otot jantung terdapat serat Purkinje, yaitu serat otot jantung khusus yang mampu menghantar impuls dengan kecepatan lima kali lipat kecepatan hantaran serabut otot jantung. Serat Purkinje terletak di endokardium, yaitu lapisan dalam otot.
  7. Otot jantung hanya terdapat pada organ jantung. Berikut ini adalah gambar struktur otot jantung.

Materi Jaringan Hewan yang lain, silahkan klik judulnya di bawah ini



DAFTAR PUSTAKA
Saifullah. 2020. Modul Pembelajaran Biologi Kelas XI - Jaringan Hewan. Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN.

https://ipa.pelajaran.co.id/otot-rangka/

Selasa, 09 November 2021

KUNCI DETERMINASI DAN KLADOGRAM

KUNCI DETERMINASI DAN KLADOGRAM


KUNCI DETERMINASI

Untuk mengidentifikasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita memerlukan alat pembanding berupa gambar, realia atau spesimen (awetan hewan dan tumbuhan), hewan atau tumbuhan yang sudah diketahui namanya, atau kunci identifikasi. Kunci identifikasi disebut juga kunci determinasi. Penggunaan kunci determinasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. 

Salah satu kunci determinasi ada yang disusun dengan menggunakan ciri-ciri taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut terdiri atas dua alternatif (dua ciri yang saling berlawanan) sehingga disebut kunci dikotomi. Agar pemahamannya lebih lengkap, kita simak uraian materi di bawah ini.

Penggunaan kunci determinasi merupakan cara yang paling sering digunakan untuk mengidentifikasi tumbuhan maupun hewan, terutama bagi yang tidak memilih spesimen acuan. Identifikasi dengan kunci identifikasi harus dilakukan secara bertahap, karena setiap kunci identifikasi memiliki keterbatasan kemampuan berbeda. Ada kunci yang mengidentifikasi sampai famili, genus atau sampai spesies. Format pada kunci identifikasi biasanya disebut kunci dikotom. Kunci dikotom merupakan kunci identifikasi dengan menelusuri dua jalur yang ditetapkan oleh keputusan beraturan dengan setiap pilihannya adalah biner (karena hanya ada dua alternatif). Kunci dikotom terdiri dari sederetan bait atau kuplet yang diberi nomor dan setiap bait terdiri dari dua baris yang disebut penuntun. Penuntun berisi ciri-ciri yang bertentangan antara satu dengan yang lain dan ditandai dengan huruf. Ciri tersebut disusun sedemikian rupa sehingga selangkah-demi selangkah pemakaian kunci identifikasi memiliki satu diantara dua dan beberapa sifat yang bertentangan dan seterusnya, yang akhirnya ditemukan satu identitas.

Kaidah-kaidah dalam membuat Kunci determinasi : 

  1. Kunci harus dikotom, yang terdiri atas dua ciri yang berlawanan. 
  2. Kata pertama dari setiap kuplet harus identik, contoh : 
  3. Kedua pilihan/bagian dari kuplet harus berlawanan sehingga satu bagian bisa diterima dan yang lain ditolak. 
  4. Hindari pemakaian kisaran yang tumpang tindih 
  5. Kuplet memuat pernyataan positif (misal: letak daun berhadapan). 
  6. Gunakan sifat-sifat yang bisa diamati. 
  7. Pernyataan dua kuplet yang brurutan jangan dimulai dengan kata yang sama. 
  8. Setiap kuplet diberi nomor. 
  9. Buat kalimat yang pendek. 

 Agar lebih jelas, berikut contoh membuat kunci determinasi tumbuhan dan hewan. Contoh 

Kunci determinasi tanaman jagung


Setelah mengidentifikasi ciri-ciri tanaman jagung menggunakan kunci determinasi di atas, maka diperoleh hasil identifikasi sebagai berikut :
1B    : Tumbuhan dengan batang sejati atau memiliki alat tubuh yang menyerupai batang
2B    : Pada batang terdapat jaringan pembuluh
3B    : Tumbuhan berbunga atau memiliki organ yang berfungsi seperti bunga
4B    :Pada daun tidak diketemukan adanya bintik kuning atau coklat
5B    : Tumbuhan dengan bunga sejati dan tidak mempunyai organ berbentuk kerucut pada ujung atau ketiak daunnya
6A    : Berakar serabut
7B    : Batang tidak berongga (jagung)


Contoh kunci determinasi hewan ikan
Setelah mengidentifikasi ciri-ciri ikan menggunakan kunci determinasi di atas, ikan termasuk ke dalam jenis pisces. Berikut ini hasil identifikasinya :
1B    : Homoitermis
2B    : Hidup di air
5A    : Alat gerak sirip
6B    : Bernapas dengan insang (pisces)

KLADOGRAM 

Kladogram (cladistic dendogram) adalah pohon evolusi yang dibuat untuk membantu menganalisis hubungan kekerabatan pada makhluk hidup. Metode kladistik menggunakan nenek moyang sebagai kriteria utama untuk mengklasifikasikan organisme. Dengan menggunakan metodologi ini, ahli biologi mencoba menempatkan spesies ke dalam kelompok yang disebut clade, yang masing-masing mencakup spesies nenek moyang dan semua keturunannya. 
Kladogram merupakan diagram bercabang yang menggambarkan hubungan taksonomi dan garis evolusioner antartakson. Dalam kladogram asumsi dasar yang digunakan adalah organisme-organisme yang berada dalam satu “clade” atau cabang merupakan nenek moyang dan turunannya. Sistem ini dianggap lebih unggul dari sistem klasifikasi biasa karena dalam kladogram klasifikasi dilakukan dengan memperhitungkan garis evolusi organisme. Kladogram dibuat dengan mendeskripsikan setiap karakter oganisme untuk membedakan yang satu dengan yang lainnya, mengelompokkan berbagai macam organisme berdasarkan kesamaan karakter yang dimiliki oleh makhluk hidup dan mengamati hubungan kekerabatan antar makhluk hidup. 
Manfaat Kladogram. Salah satunya yaitu untuk memudahkan setiap orang dalam mempelajari keanekaragaman makhluk hidup yang ada di dunia. Membedakan karakteristik dan jenis antara satu spesies dengan spesies lainnya juga menjadi lebih mudah. Selain itu, setiap orang pun akan mengetahui dan mengenali jenis-jenis makhluk hidup yang ditemukan di sekitarnya. Bahkan hubungan kekerabatan dan interaksi antar setiap makhluk hidup menjadi lebih mudah diketahui satu dengan lainnya. Pengelompokan spesies ke dalam takson Monofiletik, Polifiletik dan Parafiletik yang diilustrasikan dalam bagan sebagai berikut :


Terdapat tiga (3) jenis kelompok filogenetik: 
  1. Kelompok monofiletik: mengandung leluhur dan semua keturunannya 
  2. Kelompok parafiletik: berisi leluhur tetapi hanya beberapa keturunannya 
  3. Kelompok polifiletik ini berisi segala macam organisme tanpa nenek moyang yang sama baru-baru ini.
Sebuah kelompok parafletik merupakan jenis seperti sebuah kelompok yang terdiri dari orang tua serta juga saudara kandung , namun tidak seperti kalian. Orang tua kalian ialah nenek moyang dari kelompok, serta juga keturunan yang kalian dan juga saudara kalian. Apabila kalian atau salah satu dari saudara-saudaramu yang tersisa dari suatu kelompok, akan parafiletik disebabkan karena termasuk nenek moyang dan hanya beberapa keturunan. Dalam filogenetik, bagaimanapun, parafiletik istilah (atau monofiletik atau polifiletik) biasanya digunakan Pada saat menggambarkan sekelompok spesies serta juga nenek moyang evolusi mereka dan bukan hanya sebuah unit keluarga kecil
Contoh analisis karakter derivat beberapa hewan dan pembuatan kladogramnya :
Dari tabel tersebut di atas maka kita dapat membuat kladogramnya sebagai berikut :


 

DAFTAR PUSTAKA
Artanti. 2020. Modul Pembelajaran Biologi Kelas X - Sistem Klasifikasi. Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN.






PPT SISTEM SARAF - SISTEM SARAF PUSAT DAN SISTEM SARAF TEPI

 SISTEM SARAF PUSAT DAN SISTEM SARAF TEPI